Jumat, 14 September 2012

pertumbuhan gereja



PERTUMBUHAN GEREJA GBI PANEMBAHAN IMANUEL SEMARANG

PENGANTAR

Pertumbuhan gereja merupakan sebuah fenomena yang sangat lazim diperbincangkan orang terutama dalam dunia kekristenan. Seringkali pertumbuhan gereja dilihat dari kuantitas (jumlah jemaat yang bertumbuh dengan cepat dan banyak) tanpa memperhatikan kualitas jemaat.
Pertumbuhan gereja adalah hal yang sangat penting bagi sebuah gereja. Para pemimpin gereja mengusahakan berbagai macam cara, baik lewat dibentuknya program – program ataupun strategi penginjilan untuk memultiplikasikan jemaatnya. Yang menjadi pedoman mereka adalah nats Alkitab dalam Kisah Para Rasul 1:8 dan Matius 28:19. Dengan demikian memberitakan kebenaran Firman Tuhan dan menuntun orang – orang untuk bertobat adalah suatu amanat Agung dari Tuhan yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya. Dengan melakukan cara – cara seperti penginjilan, mengadakan mujizat, dll adalah untuk memperkenalkan kuasa Tuhan dan kebaikan Tuhan sehingga orang yang tidak percaya menjadi percaya dan bahwa orang yang menjadi percaya tersebut akhirnya mencari sebuah gereja sebagai naungan untuk dirinya dapat bertumbuh dalam iman dan pengharapan kepada Tuhan Yesus sehingga keselamatan kekal itu diperolehnya.
Gereja yang bertumbuh adalah gereja yang berbuah. Oleh sebab itu, saat ini banyak gereja – gereja mengusahakan berbagai macam cara untuk menjaring banyak jiwa bagi gerejanya. Namun tanpa disadari akan muncul suatu pertanyaan apakah gereja yang bertumbuh hanya dinilai dari jumlah jemaatnya saja? Bagaimana dengan gereja yang memiliki jemaat yang sedikit namun memiliki jiwa martir dan militan dalam mempertahankan imannya, apakah mereka tidak disebut sebagai bagian dari jemaat yang bertumbuh?. Tentu saja bukan demikian. Gereja yang bertumbuh adalah bukan saja dilihat atau dinilai dari banyaknya jemaat namun juga kualitas jemaatnya. Untuk mengetahui kebenaran tentang pertumbuhan gereja dan hal – hal apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan gereja tersebut, maka Penulis melakukan sebuah penelitian dalam salah satu gereja di Semarang untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan jemaat tersebut apakah hanya bertumbuh dalam kuantitas saja, ataukah juga dalam kualitas. Sehingga dari hasil penelitian ini kita dapat mengerti hal apa saja yang menyebabkan gereja mampu bertumbuh dan hal – hal apa saja yang perlu dihindari untuk menjegah gereja terhambat dalam pertumbuhan jemaatnya. Dalam hal ini penulis melakukan penelitian pertumbuhan gereja di Gereja Bethel Indonesia Panembahan Imanuel yang berada di kota Semarang. Dalam karya tulis ini Gereja Bethel Panembahan Imanuel selanjutnya akan disebut dengan GBI Panembahan Imanuel.

Batasan Masalah
Batasan masalah dalam karya tulis ini adalah peneliti hanya melakukan penelitian dalam ruang lingkup GBI Panembahan Imanuel saja.

Lokasi Penelitian
GBI Panembahan Imanuel terletak di JL. Bawangan No.50 Semarang. Daerah ini minoritas Kristen. Dengan keberadaan GBI Imanuel, diharapkan dapat menjangkau orang-orang yang belum mengenal Kristus.

Tujuan Penelitian
Penulis memilih GBI Panembahan Imanuel sebagai obyek penelitian karena gereja tersebut dalam kurun waktu beberapa tahun dapat melakukan kegiataan multiplikasi jemaat dari 4 jiwa hingga mencapai 120 jiwa. GBI Panembahan Imanuel juga mengusahakan kesejahteraan jemaatnya dengan memberi Manna (beras) setiap bulannya sehingga jemaat sangat terbantu kehidupan sosialnya. Selain itu GBI Panembahan Imanuel juga memberikan pelayanan untuk masyarakat luar yang belum percaya dengan melakukan kerja bakti setiap bulannya sebagai bukti kepedulian gereja terhadap lingkungan dan sosial.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami faktor-faktor pendukung dan faktor-faktor penghambat apa yang terjadi dan mempengaruhi pertumbuhan jemaat GBI Panembahan Imanuel, baik pertumbuhan secara kualitas maupun kuantitas. Dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan gereja maka dapat dilakukan antisipasi terhadap hal-hal yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas jemaat.

BAB  III
STRENGHT DAN KELEMAHAN GEREJA

A.    Strenght Gereja
Kekuatan atau keunggulan dari gereja ini ialah adanya sikap kekeluargaan yang sangat kental. Oleh sebab itu setiap kali ada ibadah atau persekutuan diluar ataupun rencana program yang lain maka akan sangat mudah dikomunikasikan karena hubungan kekeluargaan yang dekat. Dengan demikian persekutuan – persekutuan yang ada dimaksudkan untuk dapat menjawab skebutuhan – kebutuhan jemaat dan sebisa mungkin gereja membantu dalam pencarian solusi dan penyelesaian masalah secaraa bersama dan dengan melibatkan Tuhan didalamnya.
Hal ini membantu jemaat merasa aman dan menaruh kepercayaan kepada gereja sebagai suatu tempat yang nyaman untuk beribadah maupun untuk melepaskan semua persoalan yang dialami oleh jemaat. Dengan demikian multiplikasi akan terjadi karena selain gereja memberikan solusi kepada jemaat yang membutuhkan tetapi mereka juga menanamkan jiwa misi untuk menginjili orang – orang yang ada disekitar tempat tinggal mereka masing – masing. Jadi kekuatan gereja yang membuat GBI Panembahan Imanuel mengalami pertumbuhan jemaat adalah adanyahubungan kekeluargaan yang erat.

B.     Kelemahan Gereja
Kelemahan dari gereja ini ialah potensi bermain musik yang ada pada anak  pemuda remaja tidak dikembangkan. Gereja tidak memfasilitasi adanya regenerasi pemain musik atau pelatihan musik sehingga potensi pemuda remaja ini seakan tidak tersalurkan. Oleh sebab itu dalam ibadah terkadang terasa monoton karena tidak adanya pelayanan music yang lain karena harus disadari bahwa jemaat juga memandang atau memperhatikan hal tersebut.

BAB IV
KESIMPULAN

Dari paparan diatas Penulis menarik kesimpulan bahwa gereja yang hidup adalah gereja yang bertumbuh. Gereja yang hidup harus mengetahui kendala dan kekuatan dari gerejanya sendiri. Kendala yang ada dalam gereja seharusnya bukan menjadi penghambat untuk gereja bertumbuh tetapi malah menjadi pemacu semangat untuk pemimpin – pemimpin gereja dalam membuat program – program atau usaha – usaha baru yang dapat digunakan untuk memperbaiki hal tersebut (sebagai evaluasi diri gereja). Sedangkan keunggulan yang ada seharusnya menjadi kekuatan dan ciri khas gereja.
GBI Panembahan Imanuel memiliki kekuatan yang membuatnya bertumbuh yaitu adanya hubungan kekeluargaan yang erat. Gereja ini memultiplikasi jemaatnya dengan melakukan pengajaran – pengajaran disetiap persekutuan yang yang dipimpin oleh para pemimpin – pemimpin atau majelis gereja. Dengan ditanamkan pengajaran – pengajaran lewat kegiatan persekutuan tersebut maka tugas penginjilan setiap jemaat itu diemban oleh masing – masing anggota jemaat. Dengan demikian multiplikasi jemaat akan dengan cepat terjadi. Kesalahan dari gereja – gereja yang tidak bertumbuh adalah misi untuk penginjilan dianggap sebagai tugas gembala dan pengerja, padahal Matius 28:19 dapat diketahui bahwa tugas penginjilan adalah diemban oleh setiap orang percaya. Sedangkan kekurangan dari gereja ini ialah tidak adanya regenerasi pemain musik. Oleh sebab itu dibutuhkan pelatihan pemain musik supaya ibadah juga tidak mengalami stagnasi (berhenti) sehingga tidak monoton.
Menurut Penulis, dalam sebuah gereja, manajemen gereja memiliki peranan penting dalam pertumbuhan gereja. Manajemen gereja sebagai proses untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh gereja. Caranya adalah dengan melakukan 4 fungsi utama yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan.[1] Dengan adanya keempat hal tersebut maka kegiatan dalam gereja dapat terlaksana dengan baik dan tepat sasaran.
Penulis juga memandang bahwa jemaat yang hidup adalah jemaat yang bertumbuh dalam kualitas iman dan berbuah dalam pelayanan. Jemaat harus ikut menjadi pelaku kebenaran firman dan ikut mengemban tugas Amanat Agung Tuhan Yesus yaitu dengan melakukan penginjilan dengan cara – caranya sendiri.[2]
Usaha yang dilakukan oleh gereja untuk menumbuhkan gerejanya adalah seharusnya lewat pembangunan jemaat. Pembangunan jemaat adalah membangun orangnya ataupribadinya bukan organisasinya. Umat “diberdayakan” dan diangkat sebagai subjek didalam gereja. Melalui pembangunan jemaat ini para pemimpin dalam gereja diharapkan dapat membuat program – program gereja yang dapat membangun jemaat.[3]
Penulis juga memberikan tanggapan bahwa persekutuan yan diakonal dibutuhkan dalam bertumbuhnya suatu gereja. GBI Johar telah melakukan hal ini yaitu dengan membantu orang – orang yang membutuhkan karena mereka dianggap sebagai kesatuan tubuh Kristus yang ada dalam gereja. Dalam Roma 12:13 menunjukkan bahwa sebagai seorang yang percaya harus memberikan bantuan kepada sesama. Salah satu tugas gereja adalah Koinonia. Koinonia ada bila tindakan dari koinonia itu tampak yaitu dengan tindakan saling mengasihi, memberi, membantu, dan menyokong, serta mengisi satu dengan yang lain.[4]
Penggembalaan adalah tugas penting yang diemban oleh sebuah gereja dan dilaksanakan oleh seorang pemimpin. Perjumpaan dengan jemaat yang baik dan responsive akan membuat hubungan yang nyaman anatara pemimpin dan jemaat. Dengan demikian jemaat yang bernaung didalam gereja akan lebih menikmati pengajaran – pengajaran yang disampaikan dan dengan respon yang baik hal itu akan menghasilkan pertumbuhan iman jemaat menjadi lebih efektif. Dengan demikian gereja juga akan bertumbuh dalam kualitas jemaat.
Menurut Michael Griffiths, kegagalan dalam gereja yang tidak bertumbuh adalah karena gereja bersifat duniawi dan bisa bersalah, maka harus ada tempat untuk bertumbuh. Penekanan yang terlalu berlebihan terhadap aspek kerohanian suatu gereja membuat gereja terlihat sempurna dan hal inilah yang dapat menjadi factor penghambat suatu gereja bertumbuh yaitu gereja merasa sudah sempurna. Yang benar adalah bahwa Allah yang memberi pertumbuhan (1 Kor 3:7) dan karena hal itu, gereja harus tetap mengusahakan pertumbuhan gerejanya.[5]
Jadi, dalam pertumbuhan gereja para pemimpin gereja harus mampu memanage semua kegiatan yang ada dengan baik. Tugas penginjilan adalah bukan hanya tugas pemimpin gereja namun juga tuga seluruh anggota jemaat. Dengan pandangan yang demikian maka usaha pemultiplikasian gereja dapat terjadi dengan lebih efektif. Adanya perhatian pemimpin – pemimpin gereja baik lewat persekutuan ataupun pelayanan perkunjungan dan pengajaran – pengajaran yang disampaikan oleh para pemimpin mereka akan membuat jemaat terbangun imannya dan bertumbuh secara kualitas yaitu menjadi jemaat yang militan. Dengan demikian perwujudan gereja yang bertumbuh adalah usaha bersama dari pihak para pemimpin gereja dan anggota jemaatnya.

DAFTAR PUSTAKA

Griffiths,Michael.Gereja Dan Panggilannya Dewasa Ini.Jakarta: BPK Gunung Mulia,1995.
Prodjowijono,Suhartono.Manajemen Gereja Sebuah Alternatif.Jakarta:BPK Gunung Mulia,2008.
Riemer,G.Jemaat Yang Hidup.Jakarta:Yayasan Komunikasi Bina Kasih,2005.
Riemer,G.Jemaat Yang Diakonal.Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih,2004.
Riemer,G.Jemaat YangPastoral.Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih,2005.
Riemer,G.Jemaat Yang Presbiterial.Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih,2005.
Riemer,G.Jemaat Yang Tertib.Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih,2005.
SEAGST Institute of Advanced Pastoral Studies dan Panitia Metode Studi Kasus SUMUT.Studi Kasus Pastoral. Jakarta:BPK Gunung Mulia,1985.
Sutanto,Timotius Kurniawan. 3 Dimensi Keesaan Dalam Membangun Jemaat. Jakarta:BPK Gunung Mulia,2008.








[1] Suhartono Prodjowijono,Manajemen Gereja Sebuah Alternatif(Jakarta:BPK Gunung Mulia,2008),6.
[2] G.Riemer,Jemaat Yang Hidup(Jakarta:Yayasan Komunikasi Bina Kasih,2005),21.
[3] Timotius Kurniawan Sutanto,3 Dimensi Keesaan Dalam Membangun Jemaat(Jakarta:BPK Gunung Mulia,2008),32.
[4] G. Riemer,Jemaat Yang Diakonal(Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih,2004),88.
[5] Michael Griffiths,Gereja Dan Panggilannya Dewasa Ini(Jakarta: BPK Gunung Mulia,1995),73.

Senin, 07 Mei 2012

PL, Ratu Wasti


MENGUAK ALASAN DIBALIK PENOLAKAN RATU WASTI TERHADAP PERMINTAAN RAJA AHASYWROS

BAB I
PENDAHULUAN
“No Woman No Cry” adalah ungkapan yang familiar yang memiliki pengertian tidak ada wanita tidak masalah. Dalam Alkitab ada seorang raja yang tidak dianggap oleh “wanitanya” sendiri. Inilah yang dialami oleh raja Ahasyweros. Dengan kekuasaan yang ia miliki pastilah setiap wanita akan tunduk kepadanya. Tetapi diluar perkiraan, ratu Wasti tidak tunduk dalam otoritas raja. Ratu Wasti menolak permintaan raja yang “sederhana” itu. Dengan penolakan ratu Wasti maka raja Ahayweros mengambil keputusan untuk menggeser kedudukan ratu Wasti dengan ratu yang baru. Raja Ahasyweros juga tidak berlarut dalam kesedihan bahkan setelah kejadian tersebut raja tetap memfokuskan rencana penyerangannya kesejumlah daerah yang hendak ia tahlukkan.
Dalam konsep PL sendiri muncul dan berkembang adanya eksploitasi wanita. Wanita diperlakukan sewenang-wenang oleh laki-laki karena budaya yang berkembang dalam zaman PL adalah budaya Patriakal. Dalam Alkitab khususnya di PL budaya Patriakal sangat menonjol. Hanya beberapa kitab dalam PL yang mengekspose peran feminisme dalam perjuangan. Salah satunya adalah kitab Ester. Dalam kisahnya Ester menjadi seorang ratu yang berjuang mempertahankan kehidupan orang Yahudi dari rencana pemusnahan yang dirancangkan oleh Haman. Yang menarik dari kitab Ester ini adalah Ester diangkat menjadi ratu karena Wasti yang menjadi ratu sebelum Ester dipecat oleh raja Ahasyweros akibat permintaannya yang ditolak Wasti. Yang mengusik keingintahuan Penulis adalah apakah alasan yang melatar belakangi penolakan ratu Wasti terhadap permintaan raja Ahasyweros yang hanya menginginkan ratu Wasti diperlihatkan didepan sida-sida dalam pesta raja?. Apakah hanya sekedar karena ratu Wasti sibuk dengan pesta yang ia adakan sendiri atau karena adanya budaya eksploitasi wanita yang berkembang saat itu membuat ratu Wasti memberontak terhadap titah raja?. Alkitab tidak menjelaskan secara detail tentang hal tersebut. Oleh sebab itu berikut Penulis akan mengupasnya dalam pembahasan ini yaitu “Alasan dibalik penolakan ratu Wasti terhadap permintaan raja Ahasyweros”.

BAB II
ALASAN DIBALIK PENOLAKAN RATU WASTI TERHADAP PERMINTAAN RAJA AHASYWEROS

A.    Latar Belakang Budaya Pesta di Persia
Setelah kerajaan Babel direbut dan diganti oleh kerajaan Persia pada tahun 539 SM, pusat pemerintahan bagi orang Yahudi buangan berpindah ke Persia yang ber-ibukota di Susan. Berpesta adalah sebagian kehidupan sosial yang penting untuk raja-raja Persia. Raja sering membuat perjamuan atau pesta makan besar untuk pejabatnya dan kadang-kadang juga untuk masyarakat umum. Kalau banyak orang diundang, pesta itu diadakan di luar yaitu di taman halaman yang dihiasi khusus untuk pesta. [1]
Pesta sering diadakan oleh para penguasa untuk memperingati hari kemenangan, pesta untuk menjamu tamu, pesta menggalang dukungan daerah sekitar dan lain sebagainya. Dalam budaya Persia biasanya raja mengajak berpesta para laki-laki dan menyediakan minuman anggur untuk memeriahkan suasana. Sedangkan bagi para wanita diadakan pesta yang berbeda dan tidak bercampur dengan para laki-laki.
B.     Sejarah Raja Ahasyweros
Raja Ahasyweros adalah raja Persia. Ayahnya bernama Darius I yang menjadi raja Persia sebelumnya. Ibunya bernama Atossa, dan istrinya  Amestris. Ahasyweros lahir di Persia tahun 159 BC dan wafat  tahun 465 BC dalam usianya yang ke-54 tahun. Ahasyweros merajai 127 provinsi di daerah India sampai ke Etiopia (Ester 1:1). [2]
Dia adalah salah satu raja yang terkenal pada zaman itu, namun dalam pemerintahannya dia sangat angkuh dan suka bertindak sewenang-wenang. Keangkuhanya terekam dalam prasasti di Persepolis yang memuat catatan pribadinya dan berbunyi : Saya Ahasyweros, raja agung, satu – satunya raja, raja dari semua negara yang memakai segala macam bahasa, raja dari bumi raya... “. [3]
Dalam hal ini raja mempunyai kuasa total. Apa yang dia ucapkan, itu menjadi titah, atau perintah yang harus ditaati.
J. Sidlow Baxter menulis,
-       “Diluar Alkitab dia dikenal sebagai Xerxes, merupakan nama Yunaninya. Xerxes memerintah kerajan Persia dari 485 sampai 465 B.C. Nama anak Darius ditafsirkan sebagai Khshayarsha, yang diterjemahkan dalam Yunani sebagai Xerxes, dan dalam Ibrani dari huruf ke huruf, Akhashverosh, dan dalam Inggrisnya, Ahas-uerus. . . .”[4]
-       Xerxes adalah seorang raja yang memerintahkan membangun jembatan atas Hellespont, dan yang kemudian belajar kalau jembatan itu telah dihancurkan oleh badai, tepat saat selesai, sehingga dia begitu marah dan mencambuk 300 kali dan memotong kepala para pekerja jembatan. [5]
-       Inilah raja yang ditawari sejumlah uang setara dengan 5 setengah sterling oleh Pythius, orang Lydian, untuk perjalanan militer, begitu terpesona dengan kesetiaannya dia mengembalikan uang itu bersama dengan hadiah yang besar; dan kemudian diminta oleh Phthius yang sama, langsung membebaskan salah satu anaknya yang tertua dari kemiliteran, tapi saat dukungannya menurun, dengan marah dia memerintahkan memotong anak itu menjadi dua, dan pasukan berbaris diantarannya.
-       Inilah raja yang mempermalukan pahlawan Spartan yang masih ada, Leonidas.
-       Inilah raja yang mengubur rasa malu atas kekalahannya dengan terlibat dalam seksualitas dengan menawarkan hadiah kepada umum untuk penemuan kesenangan baru. [6]
-       Inilah raja yang memotong kanal melalui Isthmus of Athos untuk armadanya pengambil alihan yang luar biasa.
-       Inilah raja yang kekayaan yang besar, dan pikirannya yang besar membuat nama Persia dikagumi didunia kuno. Herodotus menceritakan bahwa diantara jumlah tak terhitung melawan Yunani, Ahasyweros merupakan yang terelok dan tergagah. Tapi secara moral sangat berlawanan. Dia menurunkan Wasti karena menolak menunjukan dirinya dihadapan para tamunya. Dialah yang memerintahkan Yahudi dibantai, dan kemudian melawan hal itu.
Ahasyweros adalah raja besar Persia, yang dinubuatkan Daniel:
Oleh sebab itu, aku akan memberitahukan kepadamu hal yang benar. Sesungguhnya, tiga raja lagi akan muncul di negeri Persia, dan yang keempat akan mendapat kekayaan yang lebih besar dari mereka semua, dan apabila ia telah menjadi kuat karena kekayaannya, ia akan berusaha sekuat-kuatnya untuk melawan kerajaan Yunani ” (Daniel 11:2 ).

C.     PESTA RAJA AHASYWEROS
Ahasyweros bersemayam di atas takhta kerajaannya dalam benteng Susan (Ester 1:2). Di sana ia mengadakan pesta agung selama 180 hari untuk merayakan kebesarannya. Alkitab tidak secara spesifik mengatakan pada pembaca kenapa raja mengadakan penyelenggaraan seperti itu, tapi maksudnya jelas ingin menunjukan kuasa dan kemuliaan kerajaannya (1:4). Bangsawan dari berbagai provinsi (127) kerajaan ini hadir untuk melihat kuasa raja dan untuk melihat apakah raja Ahasyweros mampu melakukan tugas besar ini (mengadakan perayaan selama 6 bulan).
Secara militer, pesta tersebut dipakai untuk menggalang sekutu dan tentara guna melakukan oprasi militer melakukan penyerangan lagi ke Yunani. Raja ingin meyakinkan tamunya bahwa mereka akan tunduk dan mendukung kepemimpinannya saat dia masuk kedalam peperangan. Saat 6 bulan hampir berakhir, ada pesta besar lagi yang digambarkan. Pesta besar ini lebih singkat hanya 7 hari, dan untuk semua orang yang berdiam di Susan, baik kaya maupun miskin (1:5). Pesta yang lebih lama untuk kaum bangsawan (1:3-4). Kemakmuran merupakan bukti dari perayaan singkat dengan berlimpahnya makanan dan anggur. Walau raja menyediakan anggur dengan berlimpah, dia memberi kebebasan mereka meminum apapun yang diinginkan (1:8). Para wanita terutama terkesan dengan istana dan taman. Semua yang dituliskan dalam alkitab tentang kemegahan dan keindahan tata istana adalah untuk menunjukkan “kekayaan kemuliaan kerajaannya” (1:4-6).
Sementara itu pria dihibur oleh raja, sedangkan para wanita memiliki pestanya sendiri dengan ratu Wasti sebagai tuan mereka (1:9). Akhir dari 7 hari, pesta hampir berakhir. Banyak minuman diberikan diminggu sebelumnya, dan teks ini menyatakan bahwa raja juga ikut serta (1:10). Tidak diberitakan bahwa raja “mabuk” tapi hatinya “riang gembira”. Saat hati raja sedang “riang gembira, raja memerintahkan Wasti untuk muncul dihadapan pria yang bersama dengan raja (1:10-11). Dengan demikian Penulis menyimpulkan bahwa raja telah merencanakannya sebelumnya. Namun yang terjadi dalam kisah tersebut adalah Wasti menolak titah raja. Oleh sebab itu Wasti dibuang dari hadapan raja dan jabatannya sebagai ratu dicabut. Beberapa waktu setelah kejadian tersebut Ahasyweros pergi memimpin tentara Persia menyerang Yunani (482-479 SM).
D.    ALASAN PENOLAKAN RATU WASTI
Dalam kaitannya dengan ikatan keluarga, Wasti memang bersalah karena tidak memiliki sikap tunduk dan taat terhadap perintah suaminya. Tetapi Wasti memiliki alasan dibalik penolakannya tersebut. Beberapa kemungkinan alasan ratu Wasti menolak permintaan raja yang “sederhana” tersebut adalah:
1.         Ratu Wasti sibuk dengan pesta yang ia adakan sendiri. Secara leterleg dalam alkitab tidak disebutkan kenapa sang ratu menolak. Namun pandangan mengenai ratu lebih sibuk dengan pestanya sendiri dipahami oleh beberapa orang karena dalam situasi tersebut bertepatan ketika ratu juga sedang mengadakan perjamuan bagi kaum wanita di dalam istana raja Ahasyweros (1:9).
2.         Ratu Wasti sudah tidak menghormati raja Ahasyweros sebagai suaminya (1:17). Menurut para penasehat raja, sikap ratu Wasti ini muncul karena ratu sudah tidak menghormati raja lagi. Oleh sebab itu para penasehat memberikan saran kepada raja untuk mengganti ratu Wasti dengan ratu yang baru agar masalah tersebut tidak menjadi contoh bagi wanita-wanita lain di daerah kekuasaan Ahasyweros. Disatu sisi bila ratu Wasti tidak ditindak maka akan lebih memalukan lagi bagi raja karena  raja akan tidak dihormati oleh bawahan dan  rakyatnya karena tidak memberikan  hukuman pada ratu.
3.         Ratu wasti menolak karena dalam budaya kerajaan ketika itu seorang ratu yang dipamerkan harus dalam keadaan telanjang. Pandangan ini sesuai dengan pendapat Norman Gottwald yang menyatakan bahwa kebudayaan Persia memamerkan wanita dengan telanjang.[7] Hal itulah yang akan dialami Wasti jika ia menjalankan perintah raja Ahasyweros. Oleh sebab alasan untuk menjaga harga diri maka Wasti menolak hal tersebut.
4.         Ratu Wasti menolak karena tidak mau kehilangan martabatnya sebagai wanita dengan dipamerkannya ditengah-tengah pria-pria yang tengah mabuk oleh anggur. Wasti sadar keberadaannya ditengah-tengah pria yang sedang mabuk akan mengancam keberadaannya. Wasti memahami  bahwa keberadaannya di tengah-tengah pria-pria tersebut tidak menjamin akan adanya pelecehan yang dilakukan oleh pria-pria yang kehilangan kesadaran karena mabuk tersebut. Hal ini didukung oleh pandangan beberapa tokoh yaitu:
-          Menurut J. Sidlow Baxter: Raja memerintahkan agar Wasti (Vashti artinya ‘wanita cantik’) harus datang dan menunjukan dirinya dengan cara yang tidak sopan dihadapan banyak tamu. Hal ini merupakan pelanggaran dan penghinaan hidup seseorang yang seharusnya dilindungi raja. Dari sisi wanita (feminis) penolakan Wasti terhadap titah raja merupakan suatu keberanian dan bisa dibenarkan. Meskipun disisi lain penolakan terhadap monarki seperti sangat memalukan.[8]
-          Posisi yang sama diambil oleh Jamieson, Fausset, dan Brown yang berpendapat bahwa “Penolakan Wasti terhadap perintah untuk menunjukan dirinya dengan tidak terhormat dihadapan undangan yang mabuk berdampak pada kesopanan seks dan kedudukannya sebagai ratu.  Menurut kebiasaan Persia, ratu lebih dari istri seorang pria. Dalam pandangan umum saat itu Pengasingan Wasti yang dilakukan oleh raja adalah akibat dari raja yang telah dikuasai oleh anggur dan kesombongannya.
Dari penolakannya tersebut Wasti menerima konsekuensi dengan cara yang tidak terhormat. Wasti dibuang dari hadapan raja dan jabatannya sebagai ratu dicabut. Bahkan dalam Alkitab Wasti jelas tidak dipandang baik. Tercatat dalamAlkitab seakan dengan dingin menolak perintah suaminya dan rajanya untuk muncul dalam kebesarannya. Penasihat raja semuanya menganggap dia bersalah dan merekomendasikan agar diganti dengan yang “lebih baik.” (1:19) daripadanya. Karena tindakan Wasti dipandang dapat menjadi contoh buruk yang bisa merusak prilaku dan tindakan wanita dikerajaan (1:17-18).

BAB III
KESIMPULAN
Penolakan ratu Wasti terhadap permintaan raja yang terkesan “sederhana” itu mengandung arti yang dalam yang menyangkut tentang keberadaan wanita yang tereksploitasi zaman itu. Penolakan ratu Wasti dipandang dari budaya bukan sekedar bahwa ia menolak karena lebih mementingkan pesta yang ia adakan sendiri atau karena ia sudah tidak menghormati suaminya, tetapi lebih kepada menjaga martabat dan harga dirinya sebagai wanita. Tentu saja Wasti yang sebenarnya sudah lama menjadi ratu mengetahui bahwa pemberontakannya akan mengakibatkan amarah raja dan konsekuensi yang pasti akan ia jalani. Namun demi harga dirinya yang tidak ingin diekspose dihadapan laki-laki yang tengah mabuk yang dapat mengancam keberadaannya ketika diperlihatkan raja, membuat ia mengambil keputusan yang ia pandang tepat.
Keberanian ratu Wasti dipandang kaum feminis sebagai suatu tindakan yang tepat. Eksploitasi wanita zaman itu sangat sulit untuk ditolak oleh wanita sehingga wanita seakan dipandang tidak ada harganya. Budaya Patriakal lebih berakar pada zaman itu. Namun oleh keberadaan Wasti yang berani mengambil konsekuensi dan mempertahankan harga dirinya, ia menjadi suatu contoh sosok wanita yang perlu dihargai.

DAFTAR PUSTAKA

‑‑‑‑‑‑‑‑‑, Alkitab. Jakarta: LAI, 2006.
Bakker, F. L. Sejarah Kerajaan Allah 1. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987.
Baldwin, Joyce C. Esther: An Introduction and Commentary. Downers Grove: Inter-Varsity Press, 1984.
Baxter, J. Sidlow. Explore the Book . Grand Rapids: Zondervan Publishing House, six volumes in one, Vol. 2, 1960.
Bergant. Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius, 2002.
Browning, W.R.F. Kamus Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.
Erich F Schmidt, Persepolis III: The Royal Tombs and Other Monuments, Oriental Institute Publications, vol. 70, 1970.
Gootwald, Norman K. The Hebbrew Bible A Socio-Literary Introduction (Philadelphia: Fotress Press,1985.
Lasor, W.S. Pengantar Perjanjian Lama 1, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005.
Olmstead, A.T.  History of the Persian Empire . University of Chicago Press, 1948.





[1] F. L. Bakker, Sejarah Kerajaan Allah 1. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987), hal. 621.
[2] W.S. Lasor, Pengantar Perjanjian Lama 1, ( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005) hal. 451.
[3] Erich F Schmidt, Persepolis III: The Royal Tombs and Other Monuments (Oriental Institute Publications, vol. 70,   1970) hal.27.
[4] J. Sidlow Baxter, Explore the Book (Grand Rapids: Zondervan Publishing House [reprint], six volumes in one, 1960), Vol. 2, hal 262.
[5] A.T. Olmstead, 1948. History of the Persian Empire (University of Chicago Press) hal. 214.
[6] Ibid, hal 215.
[7] Norman K.Gootwald, The Hebbrew Bible A Socio-Literary Introduction (Philadelphia: Fotress Press,1985), hal.561.
[8] J. Sidlow Baxter,.Opcit, hal 267.