Selasa, 04 Juni 2013

Baptisan, Masa sekarang




BAPTISAN DALAM ALKITAB DAN MASA SEKARANG

A.      Pengertian Baptisan
Allah telah merancangkan karya penyelamatan terhadap umat-Nya. Karya penyelamatan tersebut dilakukan dengan mengadakan suatu perjanjian antara manusia dengan Allah. Untuk mengalami karya penyelamatan Allah, umat-Nya harus masuk dalam perjanjian-Nya.
-       Dalam Perjanjian Lama (PL)
Dalam Perjanjian Lama, Perjanjian Allah dinyatakan melalui Abraham dengan tanda sunat (Kej.17), tetapi sunat itu sendiri tidak menyelamatkan. Yang menyelamatkan adalah iman, karena berkat Tuhan juga diturunkan kepada keturunan Abraham sebagai Bapa orang percaya. Sunat yang secara fisik berarti membuang kulup kelamin melambangkan kesediaan membuang dosa sebagai lambang pengampunan dosa dari Allah, namun sunat kelamin tidak berarti bila tidak ada sunat hati (Ul.10:16).[1] Sunat hati akan dikerjakan oleh Tuhan sebagai bentuk umat mengasihi Tuhan (Ul.30:6). Demikian juga nabi Yeremia mengatakan agar umat bersunat hati agar tidak mendatangkan murka Tuhan (Yer.4:4).
-                      Dalam Perjanjian Baru (PB)
Dalam Perjanjian Baru, tanda sunat itu telah digantikan dengan baptisan (Kol 2:11-12). Baptisan memiliki makna:
1.      Baptisan sama dengan sunat melambangkan pembersihan dari dosa. Baik baptisan air maupun sunat hanya tanda lahiriah yang harus disertai dengan pertobatan di hati.
2.      Baik sunat maupun baptisan memiliki arti memasukkan umat ke dalam perjanjian Allah, atau dalam istilah PB sebagai tanda persekutuan dengan Yesus (Rom.6:5).
Baptis bahasa Yunaninya baptw (bapto) memiliki arti meletakkan sesuatu di bawah permukaan zat cair, mencelup (ke dalam), menenggelamkan, membenamkan, mewarnai sesuatu dengan mencelup, dan memercik.[2]  Hal inilah yang mendasari munculnya berbagai macam bentuk atau cara membaptis. Baptisan melambangkan pembersihan dosa. Dasar dari baptisan itu sendiri adalah iman. Baptisan merupakan kehendak Tuhan (Matius 3:15), tanda pertobatan (Matius 3:11), dan tanda pengampunan dosa serta penerimaan Roh Kudus (Kispar 2:38). Dasar dari baptisan adalah amanat Tuhan Yesus (Mat 28:19). Dalam ayat ini juga dinyatakan bahwa landasan baptisan adalah ‘dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus’.

B.       Baptisan Yohanes
Yohanes Pembaptis merupakan figur seorang yang mewartakan pertobatan dan mengundang orang yang bertobat untuk dibaptis. Pewartaan dan undangan ini umumnya ditanggapi secara positif.  Injil Markus menceritakan bahwa orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem datang kepadanya dan sambil mengaku dosa mereka dibaptis olehnya di sungai Yordan (1:5). Menurut versi Matius, bukan hanya penduduk Yerusalem melainkan juga “seluruh Yudea dan seluruh daerah sekitar Yordan” datang kepadanya dan sambil mengaku dosa mereka dibaptis olehnya di Sungai Yordan (3:5-6). Lukas juga menegaskan hal yang sama ketika berkata bahwa “orang banyak” (3:7, 10) dan “seluruh orang banyak” (3:21), termasuk para pemungut cukai (3:12) dan para prajurit (3:14) datang untuk dibaptis. Diyakini bahwa Yohanes membaptis dengan baptisan selam.
 Arti penting baptisan Yohanes Pembaptis adalah:  
1.    Baptisan Yohanes merupakan baptisan pertobatan. Baptisan semacam inilah yang dilukiskan oleh Markus dan Lukas sebagai “baptisan pertobatan untuk pengampunan dosa” (Mrk 1:4; Luk. 3:3). Lukisan ini tidak berarti bahwa baptisan dipandang sebagai sarana yang diperlukan supaya Allah mengampuni dosa-dosa kita. Pengampunan yang diberikan oleh Allah itu harus dilihat sebagai dampak dari pertobatan dan bukan dampak dari pembaptisan (bdk. Luk. 24:47; Kis. 3:19; 5:31; 10:43; 11:18; 26:18). Dengan demikian, baptisan Yohanes harus dilihat sebagai tindakan simbolis yang mengungkapkan pertobatan.
2.    Baptisan Yohanes merupakan persiapan bagi pembaptisan Mesias, Yesus yang akan datang lebih berkuasa daripada Yohanes. Sementara Yohanes menawarkan baptisan air sebagai suatu tanda lahiriah dari pertobatan, Yesus akan membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api (Mat. 3:11/Luk 3:16). Di sini “baptisan dengan Roh Kudus dan dengan api” tidak dimaksudkan untuk mengacu pada kedatangan Roh Kudus atas para murid seperti yang terjadi pada waktu Pentakosta (Luk. 2:1-4), tetapi untuk mengacu pada peran Yesus sebagai hakim eskatologis untuk seluruh bangsa (Mat 25:31-46).

-            Baptisan Yohanes terhadap Tuhan Yesus
Diceritakan bahwa Yesus datang dari Galilea ke sungai Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Kedatangan Yesus itu diprotes oleh Yohanes sendiri dengan berkata, “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, namun Engkau yang datang kepadaku?” (Mat. 3:14). Protes ini mungkin dilandasi oleh keyakinan bahwa Yesus yang tidak berdosa (2Kor.5:21; Ibr. 4:15; 1Ptr. 2:22) tidak pantas untuk menerima baptisan pertobatannya. Dengan dibaptis oleh Yohanes, Yesus yang tidak berdosa mau mengidentifikasikan diri-Nya secara penuh dengan kemanusiaan kita yang penuh dengan dosa. Selain itu, kita bisa katakan bahwa baptisan Yesus itu bukan baptisan pertobatan melainkan suatu momen pewahyuan kuasa dan kehadiran Allah dalam pribadi Yesus Kristus. Kuasa dan kehadiran Allah itu dilukiskan dalam bentuk simbol-simbol seperti burung merpati turun ke atas-Nya, dan suara dari surga (Mrk. 1:10-11).

C.    Baptisan dalam Kisah Para Rasul
Baptisan dalam Kisah Para Rasul sering disebut dengan Baptisan Roh. Landasan ayatnya adalah Kis 10:44-45.
"Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga."
Orang yang dibaptis dengan Roh akan kepenuhan oleh Roh. Manifestasi dari kepenuhan Roh adalah berbahasa Roh (Kis 2:4,18; 10:45-46; 19:6), mendapat penglihatan (2:17), bernubuat (2:18), dan melakukan mujizat (2:19). Dampak dari baptisan dalam Roh adalah meningkatkan kesadaran akan kehadiran Roh Kudus dan memperkuat keinginan kita untuk menaati pimpinan-Nya.
Baptisan Roh yang disinggung oleh Yohanes Pembaptis dalam Matius 3:11b dengan kata-kata "Baptisan roh kudus dan api" baru diberikan kepada yang bersangkutan oleh Yesus bilamana dia setelah pertobatannya itu benar-benar melaksanakan Kehendak ALLAH yaitu:
1.      Dengan segenap hati dan jiwanya mengaku percaya bahwa Yesus adalah Tuhan (Yohanes 13:13), Mesias, Anak ALLAH yang hidup (Matius 16:16), karena yang mampu menyelamatkan umat manusia adalah Yesus seorang (Kisah Para Rasul 4:12, Yohanes 14:6).
2.      Dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budinya mengasihi ALLAH (Markus 12:30).
3.      Mengasihi sesama manusia seperti dirinya sendiri (matius 22:39).
D.    Gereja Masa Kini yang Melayani Baptisan
1.      Baptisan Air
-          Baptis Percik
Kata “baptizw“ dan “baptizein” tidak bisa menjadi alasan utama untuk menentukan satu-satunya cara yang sah dalam pembaptisan. Dalam faktanya, adanya aneka-arti untuk kata “baptizw“ dan “baptizein”. Beberapa bagian Alkitab, kata “baptizw“ atau “baptizein” yang dipakai sangat jelas tidak mengandung arti menenggelamkan atau mencelupkan.[3] Misalnya, Mark. 7:4, kata yang diterjemahkan sebagai “membersihkan dirinya” dalam bahasa Yunaninya adalah membaptis yang artinya membasuh (lihat juga Luk. 11:38). Jadi, kata membaptis tidak dapat dipahami dengan pengertian hurufiah (mencelup, menenggelamkan) melainkan harus dimengerti secara simbolis yaitu pembasuhan, pembersihan atau penyucian. Ritual penyucian dalam Perjanjian Lama umumnya dilakukan dengan cara pemercikan darah (Ibr. 9:18-22). Sebab itu, penyucian yang dilakukan oleh Roh Kudus terhadap manusia berdosa dapat dilambangkan dengan cara baptisan secara percik.
Alkitab mencatat bahwa karya Roh Kudus dalam kehidupan manusia selalu digambarkan sebagai ‘turun dari atas’ atau ‘dicurahkan dari atas’. Nabi Yoel yang bernubuat tentang hari Pentakosta, melukiskan bahwa pada hari itu Roh Allah akan dicurahkan ke atas manusia (Yoel 2:28-29). Ketika para rasul mengalami penggenapan nubuat ini, mereka semua dihinggapi oleh “lidah-lidah seperti nyala api” (simbol dari Roh Kudus) yang turun dari langit (Kis. 2:2-4). Pada saat Tuhan Yesus menerima baptisan air dari Yohanes maka segera setelah itu, Roh Kudus turun ke atas diri-Nya dalam bentuk burung merpati (Mat. 3:16, Mark. 1:10, Luk. 21-22). Gerakan ‘turun ke atas’ atau ‘dicurahkan dari atas’ adalah suatu pola kerja Roh Kudus dalam membaptis orang percaya. Jadi, hal ini menjadi dasar baptisan percik, yaitu karena metode kerja dari Roh Kudus sendiri dari atas kebawah. Dalam baptisan percik, orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mengucapkan janji dan kemudian dipercik dengan air.
-          Baptis Selam
Baptis bentuk kata kerjanya baptizw (baptizo) berarti “selam” atau “ditenggelamkan”.[4] Hal ini yang mendasari munculnya baptis selam. Para penganut baptisan selam berkeyakinan bahwa kata Yunani untuk membaptis yaitu “baptizw” (baptizo) atau “baptizein” (baptizein) selalu bermakna utama mencelupkan atau menenggelamkan ke dalam air. Berlandaskan arti harafiah kata ini, maka sangat ditekankan bahwa makna literal ini dengan sendirinya sudah menunjukkan cara baptisan yang tidak lain adalah dengan diselamkan.
Baptisan selam menggambarkan identifikasi orang percaya dengan kematian, penguburan dan kebangkitan Kristus. “Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Roma 6:3-4). Diselam di dalam air menggambarkan dikuburkan bersama Kristus. Keluar dari dalam air menggambarkan kebangkitan Kristus. Jadi dalam baptisan selam ini orang yang dibaptis dimasukkan kedalam air hingga dari ujung rambut sampai ujung kaki terendam oleh air, dan kemudian dikeluarkan dari air.

2.      Baptisan Bendera
Dasar dari baptisan bendera adalah Lukas 3:16 yaitu Yohanes hanya melakukan tanda lahiriahnya, yaitu membaptis dengan air. Sedangkan Yesus melakukan hal rohani yang disimbolkan oleh baptisan, yaitu membaptis dengan Roh Kudus (dan dengan api). Penganut baptisan bendera memahami ayat ini bahwa baptisan tidak harus dengan air. Penganut baptisan ini adalah Bala Keselamatan (The Salvation Army). Mereka mempercayai bahwa setiap orang percaya adalah pasukan tentara Allah. Oleh sebab itu mereka menggunakan bendera sebagai lambang dari baptisan. Cara baptisannya adalah dengan mengibarkan bendera disekitar tubuh orang yang akan dibaptis dan membaptisnya dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus.

E.       Liturgi Baptisan
-          Pembukaan dari pendeta yang membaptis
-          Doa untuk sakramen baptisan : untuk mengawali sakramen baptisan, dengan meminta pertolongan dari Allah.
-          Memanggil orang yang dibaptis: memberikan pertanyaan berkaitan dengan kesediaannya untuk dibaptis. Dalam sesi ini orang yang dibaptis harus menjawab dengan tegas dan penuh keyakinan bahwa ia yakin dengan menjawab “Ya, dengan segenap hati!”.
-          Orang yang dibaptis mengucap janji:
a.    Saya percaya kepada Allah Tritunggal; Bapa, Anak dan Roh Kudus, yang menciptakan langit dan bumi dan yang telah menyelamatkan manusia dari dosa dan maut.
b.    Saya mengaku bahwa sejak dikandung dan dilahirkan semua manusia berdosa, termasuk saya.
c.    Saya menerima dengan sukacita bahwa saya dikuduskan oleh Tuhan Yesus Kristus melalui baptisan dan menjadi bagian dari Gereja Tuhan.
d.   Saya bersedia hidup menurut pimpinan Roh Kudus dan berjanji untuk belajar dan melakukan Firman Tuhan sebagaimana diajarkan Jemaat di sini.
e.    Saya bersedia untuk ditegur oleh Anggota atau Majelis Jemaat jika hidup saya bertentangan dengan Firman Tuhan.
-          Pendeta kemudian melangsungkan baptisan dengan memasukkan orang yang dibaptis dikolam. Pendeta memegang kepala orang yang dibaptis sambil berkata : “Saudara _________ engkau dibaptis dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”. AMIN.
-          Doa penyerahan kepada Tuhan: isinya adalah “Ya Roh Kudus, kiranya terangMu membimbing perjalanan anak ini. Ya, Kristus, kiranya anak ini bertumbuh dalam gerejaMu yang akan menjadi garam dan terang dunia. Ya, Allah Bapa, kiranya ciptaanMu ini menjadi sukacita dihadapanMu dan hidup dalam takut akan Engkau. AMIN.
-          Penutup: Pendeta mempersilahkan orang yang dibaptis untuk menghadap ke jemaat, dan pendeta berkata: “Saudara-saudara, Terimalah saudara kita yang baru saja menerima pelayanan tanda baptis kudus ditengah persekutuan kita sebagai satu tubuh. Bantulah dia/mereka dalam pertumbuhan imannya”. Kemudian jemaat menjawab “Kami menerima dengan sukacita. AMIN”.
-          Menyanyikan 1 pujian
-          Berkat dan Pengutusan dari pendeta : Bertolong-tolonganlah untuk menghadirkan damai sejahtera Allah dalam kehidupan ini. Dan terimalah berkat Tuhan . . .
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau,
Tuhan menyinari engkau dengan wajahNya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajahNya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. AMIN.

F.       Kesimpulan
Baptisan memateraikan orang percaya sebagai milik kristus. Hal ini sebagaimana sunat sebagai tanda perjanjian Allah kepada umat-Nya dalam Perjanjian Lama, baptisan meyakinkan kita akan janji-janji Allah. Tindakan baptisan merupakan simbol untuk masuk kedalam perjanjian dan suatu tanda keselamatan. Baptisan saat ini diartikan sebagai tindakan yang mau mempercayai dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Oleh sebab itu, kita tidak dapat mempermasalahkan cara baptisannya tetapi makna dari baptisan itu sendiri. Alkitab tidak pernah berbicara tentang cara pembaptisan. Sebab itu, tidak boleh ada satu cara yang dimutlakkan (baik selam atau percik atau bendera) dan tidak perlu ada klaim mengenai satu-satunya cara yang sah dalam menjalankan baptisan.

G.      Daftar Pustaka
Becker, Dieter. Pedoman Dogmatika. Jakarta: BPK Gunung Mulia,2001.
Hadiwijono, Harun. Iman Kristen . Jakarta: BPK Gunung Mulia,1992.
Niftrile, G.C. Fan dkk. Dogmatika Masa Kini. Jakarta BPK Gunung Mulia, 2000.
Porter, R.J. Katekisasi Masa Kini. Jakarta : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1990.
Rim, Jeremia. Pelajaran “Dasar Kekristenan Yang Kokoh”. Jakarta: Gereja Kristen Perjanjian Baru,2006.
Rayburn, Robert G. Apa Itu Baptisan?. (Terjemahan oleh Sutjipto Subeno & Ryanti Rachmadi). Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1991.


[1] Harun Hadiwijono, Iman Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia,1992).hlm.436.
[2] R.J. Porter MA, Katekisasi Masa Kini (Jakarta : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1990), hlm.186.
[3] Robert G. Rayburn, Apa Itu Baptisan?, Terjemahan oleh Sutjipto Subeno & Ryanti Rachmadi (Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1991), hlm.14.
[4]  Jeremia Rim, Pelajaran “Dasar Kekristenan Yang Kokoh” (Jakarta: Gereja Kristen Perjanjian Baru,2006 ), hlm. 16.

Kamis, 07 Maret 2013

psikologi dan pendidikan anak




KENAKALAN REMAJA DAN CARA PENANGGULANGANNYA



BAB I

PENDAHULUAN


Fase hidup manusia berawal dari masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan kemudian menjadi orang tua. Hal ini, tidak lebih merupakan suatu proses yang wajar dan berkesinambungan dari tahap-tahap pertumbuhan yang harus dilalui oleh seorang manusia. Setiap masa pertumbuhan memiliki ciri-ciri tersendiri. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Demikian pula dengan masa remaja. Masa remaja sering dikenal dengan istilah masa “peralihan”. Masa peralihan tersebut adalah perubahan dari masa kanak-kanak menuju tingkatan yang lebih dewasa. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya. Remaja ini, sering melakukannya melalui metode coba-coba, walaupun melalui banyak kesalahan.
Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan kedewasaan. Pada masa remaja, seorang anak yang baru mengalami pubertas, seringkali menampilkan beragam gejolak emosi. Beragamnya emosi yang ada, muncul dalam bebagai bentuk, misalnya: sikap menarik diri dari keluarga, kurang percaya diri, mudah marah, bergaul terlalu bebas, dan lain sebagainya. Hal tersebut berdampak pada lingkungan keluarga, sekolah, maupun pertemanannya.
Di era modern ini, kenakalan remaja sudah melebihi batas yang sewajarnya. Banyak anak dibawah umur yang sudah mengenal rokok, narkoba, freesex, dan terlibat pada tindakan-tindakan kriminal. Hal ini menambah panjang daftar kriminalitas di Indonesia. Akibatnya, para orangtua mengeluhkan perilaku anak-anaknya yang tidak dapat diatur, bahkan terkadang bertindak melawan mereka. Bila hal tersebut dibiarkan maka akan muncul berbagai dampak negatif lainnya. Dengan adanya dampak negatif yang ditimbulkan, maka perlu adanya usaha untuk menanggulanginya. Oleh sebab itu, untuk memahami masalah kenakalan remaja dan bagaimana cara penanggulangannya, Penulis akan membahasnya dalam karya tulis ini.

BAB II

PEMBAHASAN


Untuk memahami lebih jauh tentang kenakalan remaja maka perlu diketahui beberapa hal sebagai berikut:
  1. Pengertian Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja bukanlah perbuatan kurang baik, tidak menurut, suka mengganggu dan lain sebagainya. Kenakalan remaja adalah perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh seseorang di usia remajanya.[1] Rentang pelanggaran hukum yang dilakukan sangat luas. Hal ini meliputi pelanggaran kecil, misalnya: membuang sampah tidak pada tempatnya, sampai ke pelanggaran besar yaitu membunuh.[2] Jadi, luasnya konsep kenakalan remaja bergantung pada hukum yang berlaku di lingkungan mereka, termasuk hukum khusus untuk remaja.
Dari hal tersebut muncul adanya istilah kenakalan remaja dan kejahatan remaja. Perbedaan antara kenakalan remaja dan kejahatan remaja terdapat dalam bentuk pelanggarannya. Kenakalan remaja merupakan perbuatan yang melanggar norma budaya bagi remaja. Misalnya: merokok, minum-minuman keras, berjudi, berhubungan seks, keluar pada “jam malam” dan lain sebagainya. Sedangkan kejahatan remaja adalah perilaku yang melanggar bukan hanya budaya tetapa hukum yang berlaku secara universal. Misalnya: pencurian, perampokan, pembakaran dan lain-lain. Jumlah kenakalan remaja tidak dapat dipastikan, mengingat modermisasi yang terus menerus berkembang. Namun, dapat diprediksikan bahwa kenakalan remaja terus menerus meningkat dari waktu ke waktu meningat adanya berbagai macam kasus kenakalan remaja yang semakin banyak ditemukan di Indonesia.
Sebelum memahami kenakalan remaja lebih lanjut perlu diketahui golongan yang disebut remaja memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Masa pra-pubertas (12 - 13 tahun)
Masa ini disebut juga masa pueral, yaitu masa peralihan dari kanak-kanak ke remaja. Pada anak perempuan, masa ini lebih singkat dibandingkan dengan anak laki-laki. Pada masa ini, terjadi perubahan yang besar pada remaja, yaitu meningkatnya hormon seksualitas dan mulai berkembangnya organ-organ seksual serta organ-organ reproduksi remaja.[3] Di samping itu, perkembangan intelektualitas yang sangat pesat juga terjadi pada fase ini. Akibatnya, remaja-remaja ini cenderung bersikap suka mengkritik (karena merasa tahu segalanya), yang sering diwujudkan dalam bentuk pembangkangan ataupun pembantahan terhadap orang tua, mulai menyukai orang dewasa yang dianggapnya baik, serta menjadikannya sebagai figure panutannya.
2.      Masa pubertas (14 - 16 tahun)
Masa ini disebut juga masa remaja awal, dimana perkembangan fisik mereka begitu menonjol. Remaja sangat cemas akan perkembangan fisiknya, sekaligus bangga bahwa hal itu menunjukkan bahwa ia memang bukan anak-anak lagi. Pada masa ini, emosi remaja menjadi sangat labil akibat dari perkembangan hormon-hormon seksualnya yang begitu pesat.[4] Keinginan seksual juga mulai kuat muncul pada masa ini. Pada remaja wanita ditandai dengan datangnya menstruasi yang pertama, sedangkan pada remaja pria ditandai dengan datangnya mimpi basah yang pertama. Remaja akan merasa bingung dan malu akan hal ini, sehingga orang tua harus mendampinginya serta memberikan pengertian yang baik dan benar tentang seksualitas.
3.      Masa akhir pubertas (17 - 18 tahun)
   Pada masa ini, remaja yang mampu melewati masa sebelumnya dengan baik, akan dapat menerima kodratnya, baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Mereka juga bangga karena tubuh mereka dianggap menentukan harga diri mereka. Masa ini berlangsung sangat singkat. Pada remaja putri, masa ini berlangsung lebih singkat daripada remaja pria, sehingga proses kedewasaan remaja putri lebih cepat dicapai dibandingkan remaja pria. Umumnya kematangan fisik dan seksualitas mereka sudah tercapai sepenuhnya. Namun kematangan psikologis belum tercapai sepenuhnya.
4.      Periode remaja Adolesen (19 - 21 tahun)
Pada periode ini umumnya remaja sudah mencapai kematangan yang sempurna, baik segi fisik, emosi, maupun psikisnya. Mereka akan mempelajari berbagai macam hal yang abstrak dan mulai memperjuangkan suatu idealisme yang didapat dari pikiran mereka. Mereka mulai menyadari bahwa mengkritik itu lebih mudah daripada menjalaninya. Sikapnya terhadap kehidupan mulai terlihat jelas, seperti cita-citanya, minatnya, bakatnya, dan sebagainya. Arah kehidupannya serta sifat-sifat yang menonjol akan terlihat jelas pada fase ini.
Dari uraian di atas, dapat disipulkan bahwa kenakalan remaja adalah suatu perilaku menyimpang dari norma yang ada di lingkungannya, baik lingkungan keluarga, sekollah maupun lingkungan tempat tinggal.


  1. Ciri-ciri Kenakalan Remaja
Pada dasarnya kenakalan remaja menunjuk pada suatu bentuk perilaku remaja yang tidak sesuai dengan norma-norma yang hidup di dalam lingkungannya. Beberapa ciri-ciri munculnya kenakalan remaja adalah :
1.      Membantah perintah orang tua.
2.      Mulai berbohong demi kepentingannya sendiri atau kepentingan pergaulannya dalam suatu komunitas.
3.      Melanggar norma yang berlaku di keluarga dan lingkungan.
4.      Memunculkan perilaku yang tidak sewajarnya dilakukan.
Dalam hal ini yang bertanggung jawab menolong remaja dalam proses pencarian jati dirinya adalah pihak orang tua, pendidik dan konselor Kristen (gereja). Dasar Alkitab mengapa remaja perlu dibimbing dan dididik adalah agar mereka tidak melakukan penyimpangan pada mas tuanya, seperti yang terdapat padan nats berikut ini:

 “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6).[5]

  1. Jenis-jenis Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja memiliki bermacam-macam bentuk. Menurut Alan Ros, ada 3 bentuk kenakalan remaja:
1.      Kenakalan Implusif
Kenakalan ini terjadi karena remaja tidak dapat mengendalikan diri pada daya tarik objek kenakalan, walaupun remaja tersebut tahu bahwa hal itu salah. Namun, karena objek itu sangat menarik dan ia mengira kemungkinan besar tidak ketahuan, maka ia melakukannya juga.[6]
2.      Kenakalan Sosialisasi
Kenakalan bentuk ini adalah kenakalan remaja yang muncul karena kurang sosialisai. Kenakalan ini terjadi karena remaja belum mengembangkan pengendalian batin untuk tidak melakukan perbuatan antisosial.[7] Kenakalan aseperti ini biasanya disebabkan karena keluarga gagal mensosialisasikan anak karena tidak menyalahkan tindakan antisosial dan mengaburkan perbedaan antara yang dapat diterima dan tidak dapat diterima.
3.      Kenakalan Sosial
Kenakalan sosial yaitu kenakalan remaja karena mengikuti norma dan standart teman sebaya atau anggota kelompoknya.[8] Pelaku kenakalan ini mungkin sudah mengembangkan kemampuan mengendalikan perbuatannya, namun ia menyerah kepada norma lingkungan sosialnya yang antisosial dan bertentangan dengan tujuan dan norma lingkungan sosial yang lebih luas.

D. Faktor yang Mempengaruhi Kenakalan Remaja
      Perilaku ‘nakal’ remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun
faktor dari luar (eksternal).
1. Faktor internal:
a.  Krisis identitas
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.[9]
b. Kontrol diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan control diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
2. Faktor eksternal:
a.  Keluarga
Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
b.  Teman sebaya yang kurang baik
Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya. Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan terbatas. Misalnya, anak orang yang paling kaya di kota itu, anak pejabat pemerintah setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak orang terpandang lainnya. Di jaman sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan hanya membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga pada orangtuanya. Orangtua juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai teman bergaul dari kalangan tertentu tersebut. Padahal, kebanggaan ini adalah semu sifatnya. Apabila hal ini tidak dapat dikendalikan, pergaulan tersebut pada akhirnya akan menimbulkan kekecewaan. Sebab kawan dari kalangan tertentu mempunyai gaya hidup yang tertentu pula. Apabila si remaja berusaha mengikuti tetapi tidak mempunyai modal ataupun orangtua tidak mampu memenuhinya maka anak akan menjadi frustrasi. Apabila timbul frustrasi, maka remaja kemudian akan melarikan rasa kekecewaannya itu pada narkotika, minuman keras, dan lain sebagainya.
c.   Komunitas
Dalam hal ini, pertumbuhan dan perkembangan anak-anak dipengaruhi oleh komunitas lingkungan sekolah dan tempat tinggal. Komunitas yang kurang baik merangsang munculnya sikap-sikap yang kurang baik pada anak.[10] Pada akhirnya anak mengalami penyimpangan norma yang selanjutnya disebut sebagai kenakalan remaja.

E. Cara Penanggulangan Masalah Kenakalan Remaja
Masalah kenakalan remaja sebenarnya bukan hanya menjadi tanggung jawab remaja itu sendiri tetapi berbagai pihak. Penanganan masalah remaja yang muncul tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan ada langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh para orang tua, pendidik, maupun konselor Kristen. Langkah-langkah dalam penanggulangan masalah remaja tersebut adalah:
1.      Mengidentifikasi masalah
Untuk mengetahui masalah yang akan timbul, maka perlu diadakan identifikasi masalah pada kenakalan remaja. Identifikasi masalah ini berguna untuk menolong konselor (baik pihak orang tua, pendidik maupun konselor Kristen), dalam menemukan masalah-masalah kecil yang timbul. Masalah-masalah kecil ini, apabila dibiarkan akan memicu masalah-masalah lain yang lebih besar. Oleh sebab itu sebelum masalah tersebut berlarut-larut maka dilakukan identifikasi masalah pada remaja.
Pihak konselor perlu melihat, apakah ada hal-hal yang menghambat remaja dalam belajar, bergaul, ataupun bersosialisasi dengan lingkungannya. Bila ada, segera dilakukan tahap berikutnya, yaitu mendiagnosa ciri kenakalan remaja apa yang muncul, yang ditimbulkan dari kesulitan-kesulitan yang dialami oleh remaja tersebut.
2.      Melakukan diagnosa terhadap ciri-ciri kenakalan yang muncul.
Diagnosa ini berfungsi untuk memprediksi munculnya kenakalan remaja yang akan dilakukan. Diagnosa dilakukan dengan melihat pelanggaran-pelanggaran dan penyimpangan-penyimpangan kecil yang dilakukan oleh remaja. Dengan mendiagnosa lewat ciri yang dimunculkan oleh remaja, maka pihak konselor akan dapat melakukan tindakan preventif terhadap remaja tersebut.
3.      Mengantisipasi (Preventif).
Setelah memahami bentuk-bentuk kenakalan remaja yang akan muncul melalui proses diagnosa, maka berikutnya dapat dilakukan usaha pencegahan lewat antisipasi yang dilakukan oleh pihak konselor. Antisipasi ini dapat dilakukan dengan memberikan nasihat-nasihat, penyuluhan akan bahaya free sex, alkohol, narkotika, dan lain sebagainya.
4.      Menyembuhkan (Kuratif).
Usaha kuratif dilakukan apabila remaja yang dikonselingi telah terlanjur melakukan bentuk-bentuk kenakalan remaja. Usaha penyembuhan yang dapat ditempuh adalah dengan mengkonselingi anak secara pribadi dan mendampingi anak dalam bentuk-bentuk pergaulan yang ia lakukan. Bila hal ini dirasa kurang cukup, anak dapat dimasukkan ke dalam tempat rehabilitasi narkoba, alkohol, dan tempat lainnya, yang dipandang dapat membantu dalam usaha penyembuhan tersebut. Namun, konselor tetap harus memberikan dukungan dan memantau perkembangan remaja.

5.      Memantau perkembangan anak.
Bila langkah-langkah diatas telah ditempuh, maka yang tidak kalah pentingnya adalah memantau keseluruhan kegiatan remaja. Dalam memantau ini bukan berarti konselor memagari konseli dengan aturan-aturan yang sebegitu rupa, tetapi konselor mengawasi dan mengarahkan kegiatan-kegiatan yang diambil oleh remaja, agar disesuaikan dengan bakat dan minatnya. Selain itu, kehidupan remaja adalah suatu proses, sehingga tidak dapat dibiarkan tanpa adanya pemantauan yang berkesinambungan.


BAB III

PENUTUP


A.    Kesimpulan
Dari uraian dan berbagai macam penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kenakalan remaja merupakan suatu sikap pelanggaran terhadap norma budaya yang ada di lingkungannya, baik di lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, maupun lingkungan masyarakat sekitarnya. Kenakalan remaja sendiri ada tiga macam, yaitu Kenakalan Implusif, Kenakalan Sosialisasi dan Kenakalan Sosial. Kenakalan Implusif terjadi karena remaja tidak dapat mengendalikan diri pada daya tarik objek kenakalan, walaupun remaja tersebut tahu bahwa hal itu salah. Kenakalan Sosialisasi muncul karena kurangnya sosialisasi dari orang tua terhadap anak, mengenai peraturan norma-norma dan budaya yang berkembang di lingkungan remaja tersebut. Sedangkan Kenakalan Sosial muncul karena remaja mengikuti norma dan standart teman sebaya atau anggota kelompoknya.
Kenakalan remaja yang ada disebabkan oleh pengaruh internal dan eksternal. Pengaruh internal berasal dari dalam diri remaja, sedangkan pengaruh eksternal muncul dari lingkungan remaja tersebut. Munculnya kenakalan remaja diawali oleh ciri-ciri dalam diri anak, seperti: membantah perintah orang tua, melanggar norma yang berlaku di keluarga dan lingkungan, dan memunculkan perilaku yang tidak sewajarnya dilakukan. Untuk mencegah kenakalan remaja lebih lanjut, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi ciri-ciri yang muncul dan mengadakan penyelesaian. Penyelesaiannya dapat ditempuh dengan beberapa cara sesuai dengan bentuk ciri kenakalan remaja yang muncul.
Dalam prakteknya, kenakalan remaja berawal dari lingkungan keluarga yang merupakan lingkungan inti tumbuh dan berkembangnya remaja tersebut. Dalam hal ini orang tua memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan remaja, baik fisik maupun psikis anak. Oleh sebab itu, perkembangan remaja dan masalah kenakalan remaja bukan semata-mata menjadi tanggung jawab remaja itu sendiri tetapi juga tanggung jawab orang tua, pendidik, dan juga konselor Kristen yang ada.



B.     Saran
Penulis memberikan saran-saran untuk mencegah munculnya kenakalan remaja sebagai bentuk penanggulangan dini bagi anak. Langkah yang ditempuh dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut:
  1. Pihak orang tua hendaknya memberikan perhatian terhadap pergaulan anak. Dengan demikian para orang tua dapat mengontrol tindakan-tindakan anak yang dipandang akan mengarah pada hal-hal tindak kenakalan remaja, sehingga dapat dialihkan kepada hal-hal yang benar dan bermanfaat.
  2. Pihak Pendidik hendaknya memberikan penyuluhan terhadap anak mengenai bahaya kenakalan remaja.
  3. Pihak gereja dalam hal ini konselor Kristen, hendaknya memberikan pemahaman terhadap norma-norma dan penanaman nilai-nilai Kristiani berkenaan dengan sikap remaja. Selain itu pengenalan dan pemahaman akan bahaya dosa juga perlu disertakan sebagai wujud sanksi yang adil yang berasal dari Tuhan, yang tidak boleh dilanggar oleh remaja tersebut.
Bila kolaborasi antar pihak dapat terjalin dengan baik, maka diharapkan masalah kenakalan remaja dapat berkurang. Berkurangnya kenakalan remaja bergantung pada pihak-pihak yang mau menolong para remaja tersebut yang sedang dalam masa pencarian jati diri.


DAFTAR PUSTAKA



, Alkitab. Jakarta: LAI, 2006.

Gunarso, Singgih D. Psikologi Perkembangan. Jakarta: PT. Gramedia,1988.

John W., Santrock. Adolescence An introduction (Dubuque: Wm. C. Brown Company Publisher, 1982), 566.

Joshepson, Michael S. dkk. Menumbuhkan 6 Sikap Remaja Idaman (Panduan Bagi Orang Tua). Bandung: Kaifa, 2003.

Kartono, Kartini. Psikologi Remaja. Bandung: PT. Rosda Karya,1988.

Meier, Paul dan Jan Meier. Menjadi Remaja Yang Bahagia. Yogyakarta: ANDI Offset, 2001.

Narramore, Bruce. Mengapa Anak-anak Berkelakuan Buruk. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1999.

Otis, Don S. Membina Anak Bermoral. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2003.

Subagyo, Andreas B. Tampil Laksana Kencana. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2003.

Surbakti, EB. Kenakalan Orang Tua Penyebab Kenakalan Remaja. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia, 2008.







[1] Andreas B. Subagyo, Tampil Laksana Kencana (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2003), 113.
[2] Santrock John W., Adolescence An introduction (Dubuque: Wm. C. Brown Company Publisher, 1982), 566.
[3] Singgih D. Gunarso, Psikologi Perkembangan. (Jakarta: PT. Gramedia,1988), 67.
[4] Ibid., 68.
[5]                 , Alkitab(Jakarta: LAI, 2006), 702.
[6] Santrock, Adolescence An introduction. . . , 115.
[7] Ibid.
[8] Ibid.
[9] Bruce, Narramore. Mengapa Anak-anak Berkelakuan Buruk (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1999), 89.
[10] Don S. Otis, Membina Anak Bermoral (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2003), 55.